Batu Tertua di Bumi Ditemukan di Bulan


Batu Tertua di Bumi Ditemukan di Bulan

Tim ilmuwan internasional dari the Center for Lunar Science and Exploration (CLSE), bagian dari NASA’s Solar System Exploration Research Virtual Institute baru saja menemukan batu tertua di Bumi dan ternyata batu itu ditemukan di bulan yaitu sampel bulan 14321, batuan seberat dua puluh pon yang dikenal sebagai Big Bertha.

Big Bertha dikumpulkan oleh astronot NASA Alan Shepard dan Edgar Mitchell pada tahun 1971 selama misi Apollo 14, misi ketiga NASA yang mendaratkan manusia ke Bulan
Big Bertha bersama dengan sampel bulan lainnya selama ini disimpan di Fasilitas Lunar Curation di Johnson Space Center di Houston, Texas.

Studi ini lalu diterbitkan di Earth and Planetary Science Letters:
https://www.sciencedirect.com/…/artic…/pii/S0012821X19300202
Hampir puluhan tahun berlalu, asal usul batu tersebut mulai terkuak. Salah satu hal yang membuat Big Bertha diyakini berasal dari Bumi adalah kandungannya.
Para ilmuwan menganalisis 2 gram felsite clast, batuan vulkanik berbutir halus dari Big Bertha yang mengandung kuarsa, dan zirkon, mineral yang banyak ditemukan di Bumi dan sangat jarang ada di Bulan.

Untuk mencari tahu dari mana asal batu ini, tim mengambil sampel batu itu dan memfokuskan pada mineral di dalamnya yang disebut zirkon.
"Zirkon adalah mineral yang sangat kuat, kuat, kokoh," kata David Kring, peneliti Pusat Penyelidikan Bulan (CLSE) yang mengembangkan teknik untuk mengamati batuan tersebut. "Jadi, jika Anda mencari peninggalan proses geologis paling kuno, zirkon adalah mineral yang sangat baik untuk memulainya."

Ketika tim menganalisis zirkon ini dan kuarsa di sekitarnya, mereka menemukan bahwa fragmen terbentuk dalam kondisi yang benar-benar aneh di bulan pada saat itu sehingga tidak mungkin terbentuk di bulan, tapi dapat terbentuk dalam kondisi yang hanya terjadi di bumi.
"Apa yang kami lakukan menggunakan komposisi mineral dalam sampel menunjukkan batu tersebut terbentuk di bawah kondisi yang hanya terjadi di Bumi," kata Robinson salah satu ilmuwan
“Misalnya, komposisi mineral tertentu peka terhadap suhu dan tekanan, mereka mengandung lebih atau kurang dari berbagai elemen jika mereka mengkristal di lingkungan yang panas atau dingin atau lingkungan yang dalam atau dangkal. Mineral lain dapat menunjukkan jika batu terbentuk di lingkungan yang banyak oksigen, atau sangat miskin oksigen. Data kami menunjukkan bahwa fragmen ini terbentuk dalam tekanan yang lebih tinggi, lebih kaya akan oksigen, dan lingkungan bersuhu lebih rendah daripada yang terjadi di Bulan. Pada dasarnya, itu harus berasal dari lingkungan seperti Bumi. " Tambahnya

Akhirnya, para peneliti menyadari bahwa sifat-sifat dari sampel akan masuk akal jika malah terbentuk di Bumi dan berkesimpulan sampel berasal dari Bumi. Namun kalau memang batu Big Bertha berasal dari Bumi, bagaimana bisa dia terdampar jauh di Bulan?
Ilmuwan menyatakan sampel tersebut adalah batuan yang terbentuk di dalam kerak planet kita dan terlontar ke bulan karena dampak hantaman kuat dari asteroid atau komet yang menghujani bumi sekitar 4 miliar tahun yang lalu selama Hadean Eon, masa ketika Bumi muda sering dihantam oleh asteroid atau komet.

Analisis tim memberikan rincian tambahan tentang riwayat sampel. Batuan itu mengkristal sekitar 20 kilometer di bawah permukaan bumi 4,0-4,1 miliar tahun lalu.
Dampak hantaman asteroid saat itu dapat menghasilkan kawah dengan diameter ribuan kilometer di Bumi, cukup besar untuk membuang material dari kedalaman 20 kilometer ke angkasa dan menghantam permukaan Bulan (yang pada saat itu tiga kali lebih dekat dengan Bumi daripada sekarang).

Setelah material mencapai permukaan bulan, material dipengaruhi oleh sejumlah peristiwa berdampak lainnya seperti hantaman asteroid, salah satunya mencairkannya 3,9 miliar tahun lalu, menguburkannya di bawah permukaan bulan dengan material lain dan membentuk batu "baru".

Setelah periode itu, Bulan hanya dipengaruhi oleh peristiwa berdampak yang lebih kecil dan jarang. Peristiwa dampak akhir yang memengaruhi sampel ini terjadi sekitar 26 juta tahun lalu saat asteroid yang menghantam menabrak Bulan yang menghasilkan Kawah Cone berdiameter kecil 340 meter serta menyeret sampel kembali ke permukaan Bulan tempat para astronot mengumpulkannya hampir 48 tahun lalu.
"Ini adalah penemuan luar biasa yang bisa membantu kita mendapat gambaran yang lebih baik tentang wujud Bumi purba dan hantaman asteroid yang mengubah planet kita di awal kehidupan," ujar David Kring.
Walaupun begitu, Kring menyadari asal usul batu ini bakal jadi kontroversial Bagi para ahli geologi. Tetapi mengingat bahwa Bumi menjadi sasaran dari dampak hantaman selama Hadean eon, material Bumi di bulan tampaknya tidak mengejutkan bagi Kring dan timnya.
Ada kemungkinan bahwa batu tersebut bukan berasal dari bumi, melainkan mengkristal di Bulan, namun, itu akan membutuhkan kondisi yang belum pernah disimpulkan sebelumnya dari sampel bulan. Ini akan membutuhkan sampel untuk terbentuk pada kedalaman yang luar biasa, di mantel bulan, di mana komposisi batuan yang sangat berbeda diantisipasi. Oleh karena itu, interpretasi yang yang paling sederhana dan masuk akal adalah bahwa sampel berasal dari Bumi.
===================================================
Aspek yang menarik dari penemuan ini adalah bahwa sampel bulan yang berasal dari bumi ini benar-benar kuno. Diperkirakan berumur 4 miliar hingga 4,1 miliar tahun, mineral zirkon terestrial yang ditemukan dalam sampel kini termasuk yang tertua yang diketahui ada. Tetapi itu tidak sepenuhnya akurat, seperti yang dijelaskan Matthew Dodd, ahli geologi dari University College, London.
"Usia mineral zirkon yang ditemukan dalam sampel bulan dikutip sekitar 4,01 miliar tahun, yang menjadikannya bagian Bumi yang sangat tua tetapi itu bukan yang tertua. Ada zirkon di Bumi berumur 4,4 hingga 4,3 miliar tahun yang berasal dari Australia Barat." kata Dodd
Jadi, sampel tersebut adalah salah satu batuan Bumi tertua yang pernah ditemukan. Mineral tertua yang ditemukan di Bumi berasal dari Jack Hills Australia dan berusia hingga 4,4 miliar tahun. Tetapi tanggal tersebut masih diperdebatkan dan bahkan jika mineral benar-benar setua itu, mereka adalah puing-puing yang tersisa dari batu yang hancur sejak lama. Sebaliknya, sampel Apollo 14 jauh lebih lengkap.
"Secara teknis ini (sampel) adalah 'batu,' sedangkan [mineral] Jack Hills adalah kristal individu, tanpa konteks," kata Jeremy Bellucci, seorang peneliti di Museum Sejarah Alam Swedia
===================================================
Penelitian di masa depan pada sampel tentu dapat menguatkan interpretasi ini. Mungkin juga batuan bulan lainnya yang saat ini disimpan mengandung sisa-sisa Bumi purba juga.
"Saya yakin kami akan menemukan sampel tambahan, dan saya juga yakin bahwa ini akan mendorong banyak orang di komunitas untuk melakukan hal yang sama," kata Kring

0 Response to "Batu Tertua di Bumi Ditemukan di Bulan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel